05.05.08
Mendiknas Temukan Beberapa Kecurangan
Para siswa sekolah menengah pertama di Tanah Air, secara serentak mengikuti ujian nasional hari pertama, Senin (5/5). Bertepatan dengan itu, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo pun menggelar inspeksi mendadak (sidak) ke beberapa sekolah. Dalam sidak, Mendiknas mendapati seorang guru bahasa Indonesia berkeliaran di tempatnya mengajar. Padahal sesuai peraturan, guru mata pelajaran yang sedang diujikan dilarang berada di lingkungan sekolah.
Bambang Sudibyo kemudian mengusir guru di SMP Maarif, Grogol, Jakarta Barat itu. Menurut Mendiknas, pelanggaran ini harus dicatat oleh Badan Standarisasi Nasional Pendidikan karena berpotensi menimbulkan kecurangan. Adapun di sekolah lainnya, Mendiknas juga menemukan pengawas ujian yang tidak menutup kembali amplop jawaban siswa dalam perjalanan dari kelas ke ruang guru.
Sejak subuh, soal ujian nasional tingkat SMP sudah didistribusikan ke setiap sekolah yang ditetapkan menjadi sub rayon wilayah. Pengambilan soal dilaksanakan setiap sekolah dengan diawasi perwakilan Dinas Pendidikan Kecamatan dan 60 anggota tim pengawas independen dari Universitas Indonesia untuk mencegah kecurangan [baca: Soal-Soal UN Dijaga 24 Jam Nonstop].
Ujian nasional tingkat SMP ini akan berlangsung selama empat hari hingga 8 Mei mendatang. Standar kelulusan bagi siswa SMP dan madrasah tsanawiyah untuk tahun ini naik 0,25 menjadi 5,25 untuk empat mata pelajaran, yakni bahasa Indonesia, matematika, bahasa Inggris, dan ilmu pengetahuan alam.
Nilai standar kelulusan yang meningkat dibanding tahun lalu telah membuat sebagian siswa SMP pusing menghadapinya. Terlebih bagi para pelajar SMP yang menjadi korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur. Selain nilai standar kelulusan, mereka juga dipusingkan dengan persiapan belajar yang serba terbatas.
Khoirul Anam, misalnya. Siswa SMP Negeri 2 Porong, ujian nasional tahun ini menjadi ujian berat baginya. Selama hampir dua tahun menetap di pengungsian Pasar Baru Porong, pelajar dari Desa Renokenongo ini harus belajar dengan kondisi dan fasilitas yang serba terbatas. Kondisi serupa dirasakan Halimatus Diah. Selain lokasi pengungsian yang ramai, fasilitas penerangan juga kurang memadai sehingga mengganggu persiapan belajar.
Selain persiapan yang minim, ujian pun terasa semakin berat. Apalagi, lokasi ujian yang harus menumpang di gedung Sekolah Menengah Negeri Atas Negeri 1 Porong. Sejak terendam lumpur Lapindo dua tahun silam, SMPN 2 Porong yang sebelumnya berlokasi di Jatirejo, Porong, tenggelam bersama permukiman warga. Hingga kini belum jelas gedung sekolah akan dibangun kembali.
Adapun ujian nasional hari ini juga diikuti para siswa penyandang tunanetra, seperti di Bandung, Jawa Barat dan Surabaya, Jatim. Kendati kurikulumnya berbeda, mata pelajaran yang diujikan sama dengan para siswa yang normal. Begitu pula dengan nilai kelulusan minimal, yaitu 5,25.
Kendati demikian, kebersamaan para siswa Sekolah Luar Biasa A Bandung telah dimulai sejak menjelang ujian nasional dimulai pagi tadi. Para siswa yang mengalami cacat penglihatan ini bahu-membahu agar sampai di ruang kelas. Termasuk untuk duduk di bangku yang telah disediakan.
Ujian nasional hari ini juga diikuti para siswa tunanetra di SLB Surabaya. Walau soal ditulis dalam huruf braille, namun para siswa mengaku kesulitan membaca pertanyaan karena lembar soal yang rusak.(ANS/Tim Liputan 6 SCTV)
from:liputan6 SCTV